Pinjol dan Paylater Hambat Generasi Muda Miliki Rumah
aldohamagazine.com – Pinjaman online (pinjol) dan layanan bayar tunda atau paylater semakin memengaruhi kemampuan generasi muda membeli rumah. Banyak milenial dan Gen Z gagal mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) karena riwayat pinjaman mereka tercatat di Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) milik Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Fenomena ini mencerminkan masalah serius. Generasi muda yang seharusnya mulai menata masa depan justru terjebak cicilan konsumtif. Barang elektronik, liburan, hingga kebutuhan sekunder lainnya menjadi beban dalam laporan kredit mereka.
Dampak Pinjol pada Pengajuan KPR
President Director PT Summarecon Agung Tbk, Adrianto P. Adhi, menegaskan pinjol menjadi faktor besar penghambat KPR. Ia mencontohkan kasus di Bekasi, di mana banyak calon pembeli rumah gagal lolos seleksi KPR hanya karena cicilan barang elektronik belum lunas.
“Ketika ada pinjaman online dan paylater, begitu ajukan KPR tidak lolos. TV dan kulkas belum lunas, itu kasihan,” ungkap Adrianto saat acara Indonesia Summit 2025 di Jakarta.
Konsumtif Jadi Gaya Hidup Baru Untuk Para Milenial dan Gen Z
Adrianto menilai pinjol dan paylater mendorong pola hidup konsumtif. Generasi muda tergoda membeli berbagai barang secara cicilan, tanpa memikirkan dampak jangka panjang. “Pinjol dan paylater mendorong konsumtif. Saat harus beli rumah, BI Checking menolak,” jelasnya.
Data OJK menunjukkan tren serupa. Per akhir 2024, outstanding pinjol mencapai lebih dari Rp 65 triliun. Sementara layanan paylater tumbuh cepat, terutama di kalangan usia 20–35 tahun.
Baca Juga : “Penerimaan Pajak Rp362 Triliun Batal Dikejar demi Rakyat“
Daya Beli Turun di Tengah Tekanan Ekonomi
Selain faktor pinjol, melemahnya daya beli masyarakat ikut menambah beban. Lonjakan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sejak 2023 membuat generasi muda makin sulit mengalokasikan dana untuk rumah.
Adrianto menyebut situasi ini mengkhawatirkan. Ia menilai ekonomi berat dan utang konsumtif adalah kombinasi yang berbahaya. Banyak anak muda akhirnya terjebak kontrakan jangka panjang karena tidak mampu lolos persyaratan perbankan.
Tantangan dari SLIK dan BI Checking
Semua pinjaman, baik pinjol maupun paylater, masuk dalam SLIK OJK. Sistem ini menjadi alat bank untuk menilai kelayakan kredit calon debitur. Artinya, meski cicilan kecil, tetap menjadi penghambat jika jumlah pinjaman menumpuk.
Perbankan menganggap calon debitur dengan riwayat cicilan konsumtif lebih berisiko. Dampaknya, generasi milenial dan Gen Z kerap ditolak pengajuan KPR meski memiliki penghasilan tetap.
Masih Ada Harapan Generasi Muda
Meski demikian, peluang milenial dan Gen Z membeli rumah masih terbuka. Data Summarecon mencatat, pada 2023 penjualan rumah di Summarecon Bekasi didominasi pembeli milenial hingga 62% dan Gen Z sekitar 17%.
Sementara di Summarecon Serpong, komposisinya juga cukup tinggi. Milenial mencapai 49% dan Gen Z hingga 37% dari total pembelian. Fakta ini menunjukkan generasi muda tetap punya minat besar memiliki rumah.
Perubahan Pola Konsumsi
Data tersebut menepis anggapan bahwa generasi muda lebih memilih pengalaman seperti traveling daripada membeli rumah. Sebaliknya, banyak milenial dan Gen Z mulai sadar pentingnya memiliki aset jangka panjang.
Tren ini mengisyaratkan bahwa generasi muda masih bisa mengatur keuangan lebih bijak. Dengan mengurangi cicilan konsumtif, mereka punya peluang lebih besar untuk lolos KPR.
Solusi agar Milenial-Gen Z Bisa Beli Rumah
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh generasi muda agar lebih mudah membeli rumah.
Edukasi Literasi Keuangan
Pertama, peningkatan literasi keuangan menjadi kunci. Milenial dan Gen Z perlu memahami dampak cicilan konsumtif terhadap masa depan. OJK mencatat tingkat literasi keuangan generasi muda masih di bawah 40%.
Pengelolaan Utang dengan Bijak
Kedua, manajemen utang sangat penting. Cicilan kecil sebaiknya dibatasi, terutama yang hanya bersifat konsumtif. Bank menilai riwayat keuangan lebih serius dibandingkan jumlah cicilan.
Produk Rumah yang Terjangkau
Ketiga, pengembang perumahan bisa menghadirkan produk lebih terjangkau. Hunian tipe kecil dengan skema pembayaran fleksibel dapat menjadi pintu masuk generasi muda untuk memiliki aset properti.
Penutup: Menatap Arah Masa Depan
Utang pinjol dan paylater terbukti menjadi hambatan serius bagi milenial dan Gen Z untuk memiliki rumah. Namun, data penjualan properti menunjukkan harapan tetap ada. Generasi muda masih mau membeli rumah, asalkan mampu mengelola utang dengan bijak.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, OJK, perbankan, dan pengembang sangat dibutuhkan. Literasi keuangan harus diperkuat agar generasi muda tidak terus terjebak dalam utang konsumtif. Jika kesadaran ini tumbuh, maka impian milenial dan Gen Z untuk memiliki rumah bukan lagi hal yang mustahil.
Baca Juga : “Mercy for None Meledak Global, 3 Hari Raih Rekor Baru“