Donald Trump Tolak Usulan Parlemen Israel Mencaplok Tepi Barat
aldohamagazine – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa AS tidak akan mendukung rencana aneksasi wilayah Tepi Barat oleh Israel. Pernyataan ini muncul setelah sejumlah anggota parlemen Israel menyetujui rancangan undang-undang yang bertujuan untuk menerapkan hukum Israel di wilayah tersebut. Yang secara de facto akan menjadi langkah aneksasi. Trump mengingatkan bahwa Israel tidak akan mengambil tindakan lebih lanjut terkait wilayah Tepi Barat. “Jangan khawatir tentang Tepi Barat. Israel tidak akan melakukan apa pun dengan Tepi Barat,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih pada 23 Oktober 2025.
“Baca Juga: Rusia Peringatkan Respon Serius jika Ukraina Gunakan Rudal Tomahawk”
Wakil Presiden AS Menyebut Aneksasi Tepi Barat Sebagai Langkah “Sangat Bodoh”
Wakil Presiden AS, JD Vance, juga menyuarakan penolakan keras terhadap usulan aneksasi Tepi Barat. Dalam kunjungannya ke Israel, Vance menyebut langkah tersebut sebagai “aksi politik yang sangat bodoh”. Ia menegaskan bahwa kebijakan resmi pemerintahan Trump adalah untuk menolak aneksasi wilayah tersebut. “Ini akan selalu menjadi kebijakan kami,” kata Vance. Menggarisbawahi bahwa pemerintah AS tidak akan mendukung langkah sepihak yang dianggap memperburuk ketegangan antara Israel dan Palestina.
Rancangan Undang-Undang Aneksasi Disetujui di Parlemen Israel
Pada 22 Oktober 2025, parlemen Israel memberikan persetujuan awal terhadap rancangan undang-undang yang bertujuan untuk menerapkan hukum Israel di Tepi Barat. Langkah ini secara efektif akan mengubah status wilayah yang telah lama menjadi sengketa dengan Palestina. Rancangan undang-undang ini mendapatkan dukungan dari anggota parlemen sayap kanan, termasuk Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich. RUU tersebut disetujui dengan suara tipis 25-24, meskipun mayoritas di parlemen menentang usulan tersebut.
Netanyahu Menentang Usulan Aneksasi dan Sebutnya Provokasi Politik
Meskipun sebagian besar anggota parlemen Israel mendukung rencana aneksasi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak langkah ini. Kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut usulan tersebut sebagai “provokasi politik yang disengaja” dan mengkritik para pendukung aneksasi. Netanyahu, yang memimpin Partai Likud, menyatakan bahwa tanpa dukungan dari partainya, upaya tersebut tidak akan berhasil. Pernyataan ini menunjukkan perbedaan pendapat yang ada dalam pemerintahan Israel terkait langkah aneksasi.
“Baca Juga: Microsoft Bebaskan Tim Xbox dari Penggunaan AI dalam Pengembangan Game”
Prospek Kebijakan AS Terhadap Tepi Barat dan Tantangan Diplomatik
Penolakan keras dari AS terhadap aneksasi Tepi Barat menambah kompleksitas dalam hubungan diplomatik antara Israel dan Palestina, serta antara Israel dan negara-negara Barat. Meskipun Trump menegaskan bahwa kebijakan AS adalah menentang aneksasi, ketegangan internal di Israel dan pengaruh kelompok sayap kanan dapat memperburuk situasi. Upaya ini juga dapat menambah tantangan bagi proses perdamaian di Timur Tengah, yang sudah lama terhambat oleh ketegangan politik dan teritori. Ke depan, perkembangan ini berpotensi mempengaruhi hubungan Israel dengan AS, serta menyulitkan upaya diplomasi lebih lanjut antara kedua negara.