Harga Chip DRAM Kembali Melonjak di Awal 2026
aldohamagazine – Awal tahun 2026 membawa kabar kurang menggembirakan bagi pasar PC global, khususnya bagi konsumen dan manufaktur yang bergantung pada pasokan RAM. Setelah harga memori sepanjang 2025 belum menunjukkan tanda pemulihan, pasar justru memperkirakan situasi akan semakin memburuk. Laporan terbaru mengindikasikan lonjakan harga DRAM dalam skala besar yang berpotensi memengaruhi seluruh rantai pasok industri teknologi.
“Baca Juga: Shroud Sebut Arc Raiders Game Terbesar Sejak Fortnite”
Bagi konsumen yang berencana merakit atau meng-upgrade PC dalam waktu dekat, kondisi ini menjadi sinyal peringatan. Harga komponen inti seperti RAM diprediksi akan terus menanjak, sehingga biaya total sistem ikut meningkat. Situasi ini juga menekan produsen perangkat keras yang harus menyesuaikan strategi pengadaan agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian pasar.
Proyeksi Kenaikan Harga DRAM Hingga 50 Persen
Lembaga riset DRAMeXchange melaporkan bahwa harga kontrak chip DRAM pada kuartal pertama 2026 diproyeksikan naik hingga 50 persen. Kenaikan ini tergolong sangat tinggi dan mencerminkan tekanan besar pada sisi pasokan maupun permintaan. Ketidakstabilan pasar sejak tahun sebelumnya memicu lonjakan tersebut.
DRAMeXchange menilai bahwa kenaikan ini bukan bersifat sementara. Tekanan harga diperkirakan berlanjut seiring terbatasnya kapasitas produksi dan meningkatnya permintaan dari berbagai sektor. Kondisi tersebut mempersempit ruang negosiasi bagi para pembeli, khususnya produsen PC dan laptop yang sangat bergantung pada kontrak pasokan jangka panjang.
Permintaan OEM dan Tekanan terhadap Manufaktur
Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga adalah tingginya permintaan dari para original equipment manufacturer atau OEM. Banyak OEM dilaporkan hanya memiliki stok DRAM untuk beberapa minggu ke depan. Situasi ini memaksa mereka berebut pasokan dan menandatangani kontrak secepat mungkin demi menjaga kelangsungan produksi.
Tekanan ini memperlemah posisi tawar manufaktur, karena mereka tidak memiliki banyak pilihan selain menerima harga yang lebih tinggi. Selain itu, menurunnya tingkat inventaris membuat risiko gangguan produksi semakin besar. Jika pasokan tersendat, produsen terancam tidak mampu memenuhi permintaan pasar, terutama pada periode awal tahun yang biasanya menjadi momentum penjualan.
Dampak CES dan Siklus Upgrade Komponen PC
Awal tahun selalu identik dengan siklus upgrade komponen PC, terutama setelah ajang CES yang menjadi panggung peluncuran prosesor dan kartu grafis terbaru. Tahun 2026 tidak terkecuali. Kehadiran produk baru mendorong lonjakan permintaan RAM sebagai komponen pendukung utama dalam sistem PC modern.
Kondisi ini berpotensi memperparah krisis harga DRAM. Ketika permintaan melonjak sementara pasokan terbatas, harga hampir pasti terdorong naik. Para analis menilai bahwa fase pasca-CES akan menjadi titik krusial. Jika stok RAM di tingkat OEM habis, gelombang kenaikan harga berikutnya sangat mungkin terjadi dalam waktu singkat.
“Baca Juga: Samsung Galaxy S26 Hadir dengan Exynos 2600 dan AI Lokal”
Strategi Kontrak Jangka Panjang dan Risiko Harga Tinggi
Untuk mengantisipasi ketidakpastian, banyak manufaktur kini berlomba mengamankan kontrak pasokan jangka panjang dengan durasi hingga satu tahun. Langkah ini diambil demi memastikan ketersediaan DRAM dalam jangka menengah. Namun, strategi tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan. Kondisi ini berisiko menekan margin keuntungan dan pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual produk ke konsumen. Jika tren ini berlanjut, pasar PC pada 2026 berpotensi menghadapi harga yang semakin mahal, baik untuk rakitan baru maupun upgrade sistem lama.
Dengan kombinasi permintaan tinggi, pasokan terbatas, dan tekanan kontrak jangka panjang, krisis harga DRAM tampaknya belum akan mereda dalam waktu dekat. Bagi konsumen dan pelaku industri, tahun 2026 kemungkinan menjadi periode yang menantang dalam ekosistem perangkat keras PC.