Perang Iran Picu Sorotan Hegemoni AS
aldohamagazine – Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran terus memanas dalam beberapa waktu terakhir. Konflik tersebut telah menimbulkan ribuan korban dan meningkatkan ketegangan geopolitik di berbagai kawasan. Situasi ini juga memicu perdebatan mengenai posisi Amerika Serikat dalam sistem kekuatan global saat ini.
“Baca Juga: Israel Ancam Targetkan Pemimpin Baru Iran”
Ketua Umum GKB-NU Hery Haryanto Azumi menilai dominasi Amerika Serikat masih ada, tetapi sedang mengalami perubahan. Ia menyebut bahwa hegemoni Amerika tidak sepenuhnya hilang, namun mulai mengalami penurunan. Pandangan tersebut disampaikan dalam diskusi geopolitik Forum Arus Dunia bersama GKB-NU.
Menurut Hery, dunia saat ini bergerak menuju sistem multipolar. Dalam sistem tersebut, kekuatan global tidak lagi terpusat pada satu negara saja. Beberapa negara besar diperkirakan akan muncul sebagai kekuatan baru yang saling berdampingan.
Pandangan ini muncul di tengah meningkatnya konflik global dan perubahan keseimbangan kekuatan internasional. Banyak pengamat menilai bahwa dinamika geopolitik saat ini menunjukkan perubahan signifikan dalam tatanan dunia. Situasi tersebut menjadi perhatian dalam berbagai forum akademik dan politik.
Hegemoni Amerika Berawal dari Dominasi Pasca Perang Dunia II
Hery menjelaskan bahwa dominasi Amerika Serikat mencapai puncaknya setelah Perang Dunia II. Pada masa itu, banyak negara besar mengalami kerusakan ekonomi dan industri akibat konflik global. Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan dengan ekonomi dan industri yang relatif utuh.
Kondisi tersebut memberikan keuntungan strategis bagi Washington dalam membentuk tatanan dunia baru. Amerika kemudian menjadi aktor utama dalam sistem internasional pasca perang. Peran tersebut terlihat dalam berbagai kebijakan global yang diambil pada masa tersebut.
Salah satu momen penting adalah Konferensi Yalta tahun 1945. Dalam pertemuan tersebut, Amerika Serikat dan Uni Soviet membagi pengaruh global setelah berakhirnya perang. Uni Soviet menguasai sekitar sepertiga wilayah dunia, sementara sebagian besar wilayah lainnya berada dalam pengaruh Amerika.
Selain itu, Amerika juga meluncurkan Marshall Plan sebagai program rekonstruksi ekonomi besar-besaran. Program ini membantu memulihkan ekonomi 16 negara di Eropa Barat. Kebijakan serupa juga diterapkan di kawasan Asia Timur, termasuk Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan.
Program tersebut memperkuat pengaruh ekonomi dan politik Amerika di berbagai kawasan dunia. Melalui kebijakan tersebut, Washington berhasil membangun jaringan aliansi yang luas. Hal ini menjadi salah satu fondasi hegemoni Amerika dalam sistem global.
Tiga Fase Perubahan Geopolitik Global Sejak 1945
Menurut Hery, geopolitik global sejak akhir Perang Dunia II dapat dibagi menjadi tiga fase utama. Fase pertama berlangsung antara tahun 1945 hingga 1970. Pada periode ini, Amerika Serikat berada pada puncak dominasi global.
Dalam fase tersebut, Amerika memiliki kekuatan ekonomi, militer, dan politik yang sangat besar. Pengaruh Washington terasa di hampir semua kawasan dunia. Sistem internasional pada masa itu sangat dipengaruhi oleh rivalitas antara Amerika dan Uni Soviet.
Fase kedua terjadi pada periode 1970 hingga 2001. Pada masa ini, dominasi Amerika mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Washington berusaha mempertahankan pengaruh globalnya dengan berbagai kebijakan strategis.
Fase ketiga berlangsung sejak tahun 2001 hingga sekarang. Dalam periode ini, Amerika mencoba memulihkan posisi globalnya melalui kebijakan yang cenderung unilateral. Namun menurut Hery, pendekatan tersebut justru mempercepat erosi kepemimpinan Amerika di panggung dunia.
Ia menilai kebiasaan bertindak secara unilateral membuat Amerika semakin terisolasi. Situasi tersebut mengurangi peluang Washington untuk memimpin dunia secara kolaboratif setelah runtuhnya Uni Soviet. Kondisi ini membuka ruang bagi kekuatan baru untuk berkembang.
Kebangkitan China Perkuat Perubahan Keseimbangan Dunia
Hery menilai fokus Amerika pada agenda keamanan global memberikan peluang bagi kebangkitan kekuatan lain. Salah satu negara yang mengalami peningkatan pengaruh adalah China. Dalam dua dekade terakhir, Beijing berhasil memperluas pengaruh ekonomi dan geopolitiknya.
Momentum penting bagi China terjadi ketika negara tersebut bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO pada 11 Desember 2001. Keanggotaan tersebut mempercepat integrasi ekonomi China dengan sistem perdagangan global. Sejak saat itu, ekonomi China berkembang pesat.
Hery juga mengutip buku The Hundred-Year Marathon karya Michael Pillsbury. Buku tersebut menjelaskan strategi jangka panjang China dalam menyaingi dominasi Amerika Serikat. Strategi tersebut dilakukan melalui pendekatan bertahap yang berlangsung lintas generasi.
Menurut Hery, fenomena naik dan turunnya kekuatan besar merupakan bagian dari dinamika sejarah. Tidak ada kekuatan global yang memiliki dominasi permanen. Setiap periode sejarah selalu menunjukkan perubahan keseimbangan kekuatan.
Namun ia menilai kebangkitan China tidak serta-merta menciptakan hegemon baru yang sepenuhnya menggantikan Amerika. Dunia saat ini justru berada dalam fase transisi yang kompleks. Sistem global masih mencari bentuk keseimbangan baru.
“Baca Juga: Echoes of Aincrad Tawarkan Potensi Game SAO Terbaik”
Indonesia Dinilai Punya Peluang Besar sebagai Kekuatan Menengah
Dalam perubahan tatanan global tersebut, Hery menilai Indonesia memiliki peluang strategis. Ia menyebut Indonesia dapat memainkan peran sebagai middle power dalam sistem internasional. Negara dengan kekuatan menengah memiliki ruang untuk berperan lebih besar di tengah perubahan global.
Menurutnya, negara-negara Global South memiliki posisi penting dalam membentuk tatanan dunia baru. Negara seperti Brasil, India, Afrika Selatan, dan Indonesia dapat berperan dalam menegosiasikan arah sistem global. Peran ini menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik.
Hery menjelaskan bahwa ketika hegemon lama mengalami penurunan dan hegemon baru belum sepenuhnya dipercaya, ruang bagi kekuatan menengah menjadi lebih terbuka. Kondisi ini memberikan peluang bagi negara berkembang untuk memainkan peran diplomatik yang lebih aktif.
Indonesia sendiri memiliki pengalaman historis dalam memimpin solidaritas negara berkembang. Salah satu contohnya adalah peran Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955. Indonesia juga berperan dalam pembentukan Gerakan Non-Blok.
Menurut Hery, negara-negara Global South dapat mendorong terciptanya tatanan dunia yang lebih seimbang. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui diplomasi yang menekankan perdamaian dan keadilan internasional. Tujuannya adalah membangun sistem global yang lebih setara.
Ia menegaskan bahwa tujuan Global South bukan untuk menggantikan dominasi negara lain. Sebaliknya, negara-negara berkembang ingin menciptakan keseimbangan baru dalam hubungan internasional. Dengan demikian, sistem dunia dapat menjadi lebih inklusif dan manusiawi.