Instagram dan YouTube Disebut Picu Candu
aldohamagazine – Aktor asal Amerika Serikat Joseph Gordon-Levitt angkat bicara terkait dampak media sosial. Ia juga menjabat sebagai penasihat global PBB untuk tata kelola digital berpusat pada manusia.
Joseph menegaskan bahwa media sosial memang dirancang untuk membuat pengguna ketagihan. Ia menyebut banyak teknik yang digunakan mirip dengan kasino di Las Vegas. Tujuannya adalah mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
“Baca Juga: Pemerintah Tutup Akun TikTok-Roblox Anak Bertahap”
Ia mencontohkan pengalaman umum saat membuka media sosial. Pengguna merasa hanya sebentar, tetapi waktu berlalu berjam-jam.
Menurutnya, kesadaran global terhadap bahaya ini mulai meningkat. Kasus hukum terhadap platform besar menjadi titik balik penting. Hal ini membuka diskusi lebih luas tentang tanggung jawab perusahaan teknologi.
Fitur Infinite Scroll dan Algoritma Jadi Pemicu Kecanduan
Joseph menyoroti fitur utama yang membuat pengguna sulit berhenti. Salah satunya adalah infinite scroll atau gulir tanpa batas. Fitur ini membuat pengguna terus mengonsumsi konten tanpa jeda.
Ia membandingkan desain tersebut dengan kasino yang tidak memiliki jam atau jendela. Pengguna kehilangan persepsi waktu saat menggunakan platform.
Selain itu, algoritma personalisasi juga berperan besar. Sistem secara otomatis menampilkan konten yang paling menarik bagi pengguna. Hal ini meningkatkan keterlibatan sekaligus memperkuat kebiasaan penggunaan.
Kombinasi kedua fitur ini menciptakan pengalaman yang sangat adiktif. Pengguna terus terdorong untuk kembali dan bertahan lebih lama. Desain ini menjadi inti dari model bisnis platform digital.
Dampak Kecanduan terhadap Otak dan Perilaku Pengguna
Penggunaan media sosial dalam jangka panjang dapat memengaruhi fungsi otak. Joseph menyebut adanya perubahan pada cara berpikir pengguna. Dampaknya termasuk penurunan kemampuan fokus.
Pengguna juga dapat mengalami kesulitan berpikir jernih. Selain itu, perhatian terhadap hal kompleks menjadi berkurang. Kondisi ini memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup.
Interaksi tatap muka semakin berkurang. Komunikasi digital sering kali tidak mampu menggantikan kedalaman hubungan nyata.
Di tingkat keluarga, muncul tekanan psikologis yang meningkat. Banyak orang mengalami dampak terhadap kesehatan mental. Hal ini menjadi perhatian serius dalam masyarakat modern.
Dominasi Platform Ubah Cara Masyarakat Konsumsi Informasi
Joseph juga menyoroti dominasi algoritma dalam konsumsi informasi. Akibatnya, kontrol pengguna terhadap informasi menjadi berkurang. Perubahan ini memengaruhi cara masyarakat berpikir dan berinteraksi. Orang cenderung menghindari informasi kompleks. Pola konsumsi menjadi lebih cepat dan dangkal.
Dampak ini bersifat akumulatif dan memengaruhi fungsi sosial. Masyarakat mengalami perubahan dalam cara berkomunikasi dan memahami informasi. Hal ini menjadi tantangan besar di era digital.
“Baca Juga: Universal Profile 4.0 Bawa Fitur Video Call di RCS”
Regulasi Global dan PP TUNAS Jadi Langkah Awal Perlindungan Anak
Kesadaran global mulai mendorong lahirnya berbagai regulasi. Beberapa negara mulai membatasi akses media sosial bagi anak. Langkah ini bertujuan melindungi generasi muda dari risiko digital.
Di Indonesia, kebijakan tersebut diterapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025. Aturan ini dikenal sebagai PP TUNAS dan diperkuat oleh Permen Komdigi Nomor 9 Tahun 2026. Regulasi mulai berlaku pada 28 Maret 2026.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyatakan akun anak di bawah 16 tahun akan dinonaktifkan. Kebijakan ini berlaku pada platform berisiko tinggi. Beberapa di antaranya termasuk YouTube, TikTok, Facebook, Instagram, Threads, X, Bigo Live, dan Roblox.
Melalui aturan ini, platform wajib memverifikasi usia pengguna. Mereka juga harus menyaring konten berisiko dan menyediakan sistem pelaporan. Pemerintah bahkan menyiapkan sanksi bagi platform yang tidak patuh.
Joseph menilai langkah ini sebagai perkembangan positif. Ia percaya dunia digital masih bisa diperbaiki. Menurutnya, internet dapat menjadi lebih sehat jika tidak hanya berfokus pada keterlibatan pengguna.