Steam Terapkan Rating IGRS untuk Pengguna Indonesia
aldohamagazine – Sistem rating IGRS menjadi klasifikasi usia resmi di Indonesia untuk mengawasi distribusi game. Sistem ini bertujuan memastikan pemain memainkan game sesuai dengan target usia pengguna. Rating ini mencakup kategori 3, 7, 13, 15, 18, hingga RC atau Refused Classification.
Pada April ini, banyak game di Steam mulai menampilkan rating IGRS. Informasi tersebut menunjukkan batas usia yang disarankan bagi pemain. Kehadiran fitur ini menjadi bagian dari integrasi antara platform Steam dan sistem klasifikasi Indonesia.
“Baca Juga: Analis Prediksi Crimson Desert Raup $200 Juta”
Langkah ini diharapkan membantu pemain dan orang tua memahami konten game. Transparansi informasi menjadi fokus utama dalam penerapan sistem ini.
Kerja Sama Steam dan IGRS untuk Sistem Rating Lokal
Pada Maret sebelumnya, Steam mengumumkan kerja sama dengan IGRS. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki sistem rating usia sendiri di platform tersebut. Kebijakan ini berlaku untuk game baru maupun lama.
Untuk game yang akan dirilis, pengembang wajib mengisi Steam Content Survey. Proses ini menjadi bagian dari tahap pra-rilis. Tujuannya adalah menentukan klasifikasi usia secara awal.
Sementara itu, game yang sudah rilis akan menggunakan data yang dimiliki Steam. Sistem ini mencoba menyesuaikan rating berdasarkan informasi yang tersedia. Valve juga akan menghubungi developer jika membutuhkan data tambahan.
Sebagian Rating Dinilai Akurat, Sebagian Lain Membingungkan
Beberapa game di Steam menunjukkan rating yang sesuai. Contohnya, Crimson Desert dan Resident Evil Requiem mendapatkan klasifikasi 18+. Penilaian tersebut mencerminkan konten dalam game.
Namun, tidak semua rating terlihat akurat. Sejumlah game populer justru memiliki klasifikasi yang membingungkan. Kondisi ini memicu diskusi di kalangan pemain.
Sebagai contoh, sistem memberikan rating 3+ untuk PUBG meski game tersebut memiliki elemen pertempuran. Sementara itu, sistem justru mengklasifikasikan Dota 2 untuk usia 18+. Perbedaan ini menimbulkan pertanyaan terkait konsistensi sistem penilaian.
Kasus Balatro, Umamusume, dan GTA V Jadi Sorotan
Beberapa kasus rating menjadi sorotan karena terlihat tidak konsisten. Sistem memberikan rating 3+ untuk Balatro tanpa keterangan tambahan. Di sisi lain, sistem mengklasifikasikan Umamusume: Pretty Derby sebagai 18+ karena unsur tertentu.
Sistem juga menetapkan Grand Theft Auto V dengan status Refused Classification. Artinya, otoritas menilai game tersebut tidak layak didistribusikan di Indonesia. Namun, pengguna masih dapat membeli game ini saat ini.
Selain itu, sistem memberikan status serupa pada game seperti Girls’ Frontline. Sementara itu, sistem tetap menempatkan Snowbreak Containment dalam kategori 18+. Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi dalam proses penilaian.
“Baca Juga: Rumor Sebut Steam Deck 2 Baru Meluncur 2028″
Developer Didorong Gunakan Self Assessment untuk Akurasi Rating
Ketidaksesuaian rating dapat terjadi karena keterbatasan data. Sistem otomatis yang digunakan Valve juga berpotensi menghasilkan klasifikasi yang kurang tepat. Kondisi ini menjadi tantangan dalam tahap awal implementasi.
Mereka dapat menjalankan proses ini melalui formulir resmi di situs IGRS. Dengan cara ini, developer dapat memastikan rating lebih akurat dan sesuai dengan konten game.
Kolaborasi antara platform, regulator, dan developer menjadi kunci utama. Para pihak perlu melakukan penyesuaian secara berkelanjutan agar sistem rating semakin konsisten. Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem game yang aman dan transparan di Indonesia.