Mohammed Shahabuddin Resmi Mundur sebagai Presiden Bangladesh
aldohamagazine – Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin resmi mengundurkan diri sekitar dua tahun sebelum masa jabatannya berakhir.
Pengunduran diri Shahabuddin dikonfirmasi oleh Ketua Parlemen Nasional, Hafiz Uddin Ahmad, dalam konferensi pers pada Jumat malam. Sesuai ketentuan yang berlaku, Ketua Parlemen akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga presiden baru terpilih.
“Baca Juga: Iran Menolak Tawaran Gencatan Senjata AS dari PM Irak”
Perubahan ini terjadi di tengah dinamika politik Bangladesh yang masih berkembang setelah pergantian pemerintahan dan berbagai perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir.
Shahabuddin Mengundurkan Diri karena Mengalami Gangguan Kesehatan
Ia mengungkapkan bahwa dokter mendiagnosis dirinya menderita neuropati otonom. Menurut Shahabuddin, penyakit tersebut membuatnya beberapa kali kehilangan kesadaran dalam waktu singkat.
Shahabuddin memutuskan untuk mengundurkan diri meski masa jabatan resminya baru akan berakhir pada April 2028.
Di Bangladesh, presiden umumnya menjalankan peran yang bersifat seremonial. Meski demikian, pergantian kepala negara tetap memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas politik nasional.
Shahabuddin Terpilih sebagai Presiden pada 2023
Mohammed Shahabuddin, yang kini berusia 76 tahun, memenangkan pemilihan Presiden Bangladesh pada 2023. Partai Awami League mengusungnya sebagai calon tunggal dalam pemilihan tersebut.
Saat itu, mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina memimpin Partai Awami League dan masih memegang kekuasaan. Setelah terpilih, Shahabuddin mulai menjalani masa jabatan lima tahun sebagai kepala negara.
Setelah Sheikh Hasina meninggalkan Bangladesh pada Agustus 2024, Shahabuddin tetap menjalankan tugasnya sebagai presiden.
Pemerintah menyelenggarakan masa transisi tersebut hingga akhirnya menggelar pemilihan umum pada Februari lalu.
Situasi Politik Bangladesh Berubah Setelah Pemilu Terbaru
Pemilu yang berlangsung pada Februari mengantarkan Tarique Rahman dari Partai Nasional Bangladesh meraih kemenangan dan menduduki tampuk pemerintahan.
Pemerintah Bangladesh tidak mengizinkan Partai Awami League mengikuti proses pemungutan suara. Larangan terhadap partai yang sebelumnya dipimpin Sheikh Hasina tersebut membuatnya tidak dapat berpartisipasi dalam pemilu.
Sementara itu, pada November 2025, pengadilan Bangladesh menjatuhkan hukuman mati secara in absentia kepada Sheikh Hasina. Pengadilan mengambil putusan tersebut atas perannya dalam tindakan keras terhadap demonstran yang berujung pada tergulingnya pemerintahan.
Pengunduran diri Shahabuddin menarik perhatian publik karena terjadi menjelang rencana Sheikh Hasina untuk kembali ke Bangladesh pada Desember mendatang.
“Baca Juga: SK Hynix Prediksi Krisis Memori Terburuk Terjadi 2027″
Laporan Sebut Pemerintah Baru Menekan Shahabuddin untuk Mundur
Selain alasan kesehatan, perkembangan politik juga menarik perhatian dalam pengunduran diri Shahabuddin. Reuters melaporkan, dengan mengutip tiga sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa pemerintah yang dipimpin Tarique Rahman telah memberikan tekanan kepada Shahabuddin agar mengundurkan diri.
Menurut laporan tersebut, pemerintah baru menjadikan hubungan lama Shahabuddin dengan Sheikh Hasina sebagai salah satu pertimbangan untuk memberikan tekanan.
Namun, dalam surat pengunduran dirinya, Shahabuddin secara resmi menyatakan bahwa kondisi kesehatannya menjadi alasan utama di balik keputusannya. Hingga kini, pemerintah Bangladesh belum mengeluarkan pernyataan resmi yang mengonfirmasi laporan mengenai dugaan tekanan politik tersebut.
Dengan mengundurkan diri, Mohammed Shahabuddin membawa Bangladesh memasuki masa transisi kepresidenan. Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmad akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga negara menyelesaikan proses pemilihan kepala negara berikutnya sesuai mekanisme konstitusi yang berlaku.